ASIANUSA singkatan dari ASOSIASI INDUSTRI AUTOMOTIF NUSANTARA dimana anggotanya terdiri dari produsen 'Micro Car' dan Mesin Penggerak di seluruh Indonesia.



Tampilkan postingan dengan label Asianusa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asianusa. Tampilkan semua postingan

ASIANUSA Keberatan dengan PP41 Tahun 2013, khususnya Pasal 2 ayat 7b dan Pasal 3 ayat 1c1



Kami adalah Asosiasi Industri Automotif Nusantara (Asianusa), yang anggotanya terdiri dari produsen 'Micro Car' dan Mesin Penggerak di seluruh Indonesia. Yang tergabung dalam ASIANUSA saat ini adalah : AG-TAWON, WAKABA, FIN KOMODO, MERAPI, GEA, BONEO, KANCIL dan ITM, secara geografis masing telah mewakili Propinsi Banten, DKI, Jabar, Jateng dan Jatim.  

Perlu diketahui bahwa para anggota kami memproduksi otomotif nasional dengan kepemilikan dan rancangan karya anak bangsa sendiri dengan mesin dibawah 1.000 CC.

Sehubungan dengan telah diterbitkannya Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 2013 pada tanggal 23 Mei 2013 tentang: "Barang Kena Pajak yang tergolong mewah berupa kendaraan bermotor yang dikenai pajak penjualan atas barang mewah", dengan ini kami mengajukan keberatan atas isi dari Peraturan Pemerintah tersebut yang berpotensi mematikan industri otomotif nasional yang sedang dirintis oleh para anggota kami, khususnya yang terera pada: Pasal 2 Ayat 7b dan Pasal 3 ayat 1c.

Pasal 2 Ayat 7b:

(7) Kelompok Barang Kena Pajak yang tergolong mewah berupa kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah dengan tarif sebesar 60% (enam puluh persen), adalah:

b. kendaraan khusus yang dibuat untuk perjalanan di atas salju, di pantai, di gunung, dan kendaraan semacam itu.


Keberatan kami adalah:

Kami saat ini sedang merintis sebuah industri Otomotif sejak tahun 2005 mulai tahap perancangan sampai kemudian tahun 2008 mulai prokdusi dan masuk ke pasar. Kendaraan Nasional ini kami beri merk: "FIN Komodo" Offroad Utility Vehicle yang membidik segmentasi pasar: perkebunan, kehutanan, pertambangan, proyek2, militer, rekreasi, SAR dll. Produk kami ini sudah terjual dan masuk ke pasar yang kami bidik sejak tahun 2008, dan sejak saat itu kami mulai melakukan ekspansi kapasitas produksi sesuai dengan permintaan pasar dan sampai saat ini kapasitas produsi kami sudah mencapai 10 Unit/Bulan.

Keberatan kami adalah, dengan keluarnya PP tersebut maka harga Fin Komodo yang semula adalah 77 Juta, setelah dikenai PPN-BM 60% maka harga Fin Komodo menjadi 123,2 Juta. Hal ini menjadi kendala bagi kami dalam memasarkan produk kami yang sudah masuk dan diterima pasar.

Pasal 3 ayat 1c1:

(1) Pajak Penjualan atas Barang Mewah atas Barang Kena Pajak yang tergolong mewah yang termasuk dalam kelompok kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5), dan ayat (8), dihitung dengan Dasar Pengenaan Pajak sebesar:

c. 0% (nol persen) dari Harga Jual untuk kendaraan bermotor yang termasuk program mobil hemat energi dan harga terjangkau, selain sedan atau station wagon, dengan persyaratan sebagai berikut:

1. motor bakar cetus api dengan kapasitas isi silinder sampai dengan 1.200 cc dan konsumsi bahan bakar minyak paling sedikit 20 kilometer per liter atau bahan bakar lain yang setara dengan itu; atau

Keberatan kami adalah:

Kami saat ini sudah mempunyai produk otomotif nasional yang yang siap produsi ber merk "Tawon" dan "GEA" yang semuanya berapasitas silinder 650 CC, kedua produk ini sudah masuk ke pasar sejak tahun 2009, sampai saat ini kami sudah siap produsi dengan kapasitas produksi terpasang 400-600 unit/bulan.

Keberatan Kami adalah, dengan keluarnya PP tersebut maka kami yang masih baru mulai memproduksi mobil nasional ini dibenturkan dengan pesaing2 merk asing karena dengan keluarnya PP tersebut maka PPN-BM untuk merk asing yang berapasitas silinder 0-12.00CC harganya akan menjadi murah dan diperkirakan akan menjadi 80-90juta. Dengan kisaran harga kami sebesar 40-70jt maka bisa dipastian bahwa segmentasi pasar yang akan kami bidik aan direbut oleh merk2 asing berkapasitas 0 - 1.200CC yang memanfaatkan PP tersebut dengan PPN-BM 0%.

Janji pemerintah lewat Kementrian Perindustrian pada saat itu sebelum terbit PP ini adalah  akan ada "Program Mobil Murah Angkutan Pedesaan" yang akan mengatur dan melindungi produsen Asianusa pada kisaran kapasitas silinder 0-750cc (saat itu permintaan Asianusa 0-1.00CC), tetapi yang keluar saat ini justru dipukul rata dari 0-1.200cc sehingga merk asing bebas masuk ke pasar yang kami bidik di 0 - 100 cc.

Kendaraan Fin Komodo yang sebelumnya tidak ada aturan spesifik yang mengatur PPNBM, sekarang malahan dikenaan PPN-BM 60%, apa sebenarnya maksud dari PP tersebut ? Karena PP tersebut jelas-jelas akan membunuh embrio mobil nasional karya anak bangsa yang saat ini baru tumbuh dan berusia balita.

Mohon bantuan dan dukungan dari segenap Rakyat Indonesia, serta pejabat-pejabat terkait agar dapat mengklarifikasi pemasalahan kami tersebut. Beberapa pihak terkait sudah kami hubungi dan kami jelaskan duduk persoalannya. 

Kami mohon doa dan dukungan kepada seluruh Bangsa Indonesia agar mimpi tentang keberadaan Mobil Nasional Karya Anak Bangsa di negeri sendiri yang sedang kami perjuangkan ini dapat TERWUJUD. Aamiin YRA

Ada Aturan Mobil Murah, Produsen Mobnas Merasa Dikadali

Syubhan Akib - detikOtoPemerintah baru saja mengeluarkan aturan terkait mobil murah melalui peraturan pemerintah No 41 tahun 2013. Namun sayang, di aturan itu tidak ada yang secara khusus membahas proteksi terhadap mobil nasional atau angkutan murah pedesaan yang dulu pernah dibicarakan.

Dahulu pemerintah menurut Ketua Bidang Marketing dan Komunikasi Asosiasi Automotive Nusantara (Asia Nusa) Dewa Yuniardi pernah menjanjikan akan memproteksi merek-merek lokal yang dalam beberapa tahun terakhir mencoba untuk muncul.

Selain itu, rencana angkutan murah pedesaan juga pernah disiapkan agar para petani dan masyarakat desa bisa mendapat kendaraan.

"Tapi di PP yang baru itu, kita tidak melihat dua hal tadi dibicarakan," kata Dewa.

Malah, pembagian kelas mesin antara merek lokal dan asing yang awalnya pernah dibahas --lokal dijanjikan akan diberikan segmen 750 cc ke bawah dan asing akan diberikan 1.000-1.200 cc-- tidak lagi ada.

"Yang ada malah tulisan 'sampai dengan 1.200 cc', kalau begitu, merek-merek lokal yang mesinnya kecil kan dipaksa harus tarung bebas dengan asing. Ini kita seperti digiring untuk masuk rimba belantara, karena mereka (merek asing) akan bebas masuk ke segmen kita," ujar Dewa.

Sementara ketika membahas masalah angkutan murah pedesaan, Dewa mengatakan kalau dahulu program ini sudah dibicarakan secara panjang lebar, tapi ternyata tidak pula termuat di PP tadi.

"Dulu bahasannya sudah panjang. Tapi sepertinya pemerintah sudah lupa," kata Dewa.

Lalu apakah merek-merek mobil nasional merasa dibohongi pemerintah? "Kita tidak dibohongi, tapi dikadali," tuntas Dewa.


Syubhan Akib - detikOtoProgram mobil murah yang baru saja dikeluarkan pemerintah membuat senang para produsen mobil asing. Namun, bila ditilik lebih dalam, maka ada potensi pendapatan negara yang hilang akibat kebijakan itu.

Ketua Bidang Marketing dan Komunikasi Asosiasi Automotive Nusantara (Asia Nusa) Dewa Yuniardi menuturkan kalau ada potensi kehilangan triliunan rupiah akibat kebijakan ini meski dia mengakui ada sisi positif seperti terserapnya banyak tenaga kerja baru. Saat ini pajak PPnBM yang dikenakan di Indonesia mencapai 10-75 persen.

"Pertama-tama dalam regulasi LCGC ini kan disebutkan kalau mobil-mobil 1.200 cc ke bawah dengan syarat tertentu pajak PPnBM hilang, jadi 0 persen. Kita lihat lagi, potensi segmen ini mencapai 600.000 per tahun," kata Dewa.

"Misalnya saja kita hitung PPnBM 30 persen. Kalau harga mobilnya Rp 50 juta saja, maka pajaknya bisa Rp 15 juta. Nah, kalikan saja Rp 15 juta tadi dengan potensi 600.000 unit. Itu banyak sekali. Padahal kan harga mobil merek asing tidak ada yang Rp 50 juta," lugasnya.

"Kalau kita menggunakan hitungan tadi, maka ada opportunity loss sampai Rp 9 triliun," cetusnya lagi.

Karena itulah, Asia Nusa menurut Dewa tidak sepakat adanya intensif seperti ini di tengah APBN yang masih kecil.

Terlebih, kalau kita melihat peraturan pemerintah No 41 tahun 2013 yang mengatur hal ini, mobil-mobil dengan bahan bakar alternatif malah masih dikenai pajak.

"Itu kan artinya, kendaraan berbahan bakar alternatif masih dianaktirikan. Tidak ada visi untuk masa depan, padahal kalau mau lepas dari minyak bumi ya harus dimulai dari sekarang," tuntasnya.

Dewan Energi Nasional

Kebijakan Mobil Murah Dinilai Salah Arah

suarasurabaya.net - Dewan Energi Nasional menilai keluarnya mobil murah ramah lingkungan Low Cost and Green Car (LCGC) hanya akan memboroskan dan menghabiskan energi fosil yang saat ini mulai langka.

"Harusnya jangan bikin mobil murah, tapi transportasi yang murah," kata Prof Muhtasor PhD, anggota Dewan Energi Nasional pada suarasurabaya.net, Kamis (6/6/2013).

Guru Besar dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya ini mengatakan, transportasi murah tidak harus dengan adanya mobil murah.

Apalagi, konsep mobil murah yang saat ini dikembangkan pemerintah hanya murah ketika membeli mobil. Sedangkan konsumsi bahan bakar akan semakin mahal.

"Dengan mobil murah, orang akan beramai-ramai beli mobil, kemacetan akan semakin panjang. Artinya konsumsi bahan bakar akan mahal," kata dia.

Indonesia, harusnya meniru beberapa negara yang terus mengembangkan transportasi murah dengan cara memperbaiki transportasi massal.

Muhtasor menilai, konsepsi mobil murah ini bukti jika kebijakan pemerintah sering tidak sejalan dengan kebijakan lainnya.

Mobil murah ini, dari sisi industri mungkin menguntungkan, namun akan menghancurkan dari sisi kebijakan hemat energi yang saat ini juga disuarakan pemerintah.

Dengan adanya mobil murah, bukan tidak mungkin pemain energi dunia ikut bermain sehingga ketergantungan akan bahan bakar fosil semakin tinggi. Akibatnya, harga BBM juga semakin mencekik. (fik/ipg)

Mungkinkah mobil nasional terwujud ?

Mobil Nasional Fin Komodo

Sering Mobil Nasional dipandang seperti tahayul yang ditakuti, dijauhi, tidak ada gunanya dipikirkan bila kita tidak punya uang. Dibilang dosa bila kita menggunakan uang yang hanya sedikit untuk sesuatu yang resikonya terlalu besar.

Di pihak lain, Mobil Nasional digambarkan terlalu sederhana. Seakan-akan asal bisa gabungkan komponen-komponen mobil, setiap orang yang memiliki bengkel bisa bikin Mobil Nasional. Mobil Nasional dipersepsikan secara naif sehingga ditertawakan dan ditinggalkan orang karena dianggap sebagai mainan penghayal yang tidak serius dan tidak memiliki prospek bisnis yang nyata.

Ada beberapa orang yang pernah mulai membuat perhitungan dan mewujudkan usaha ini. Sebut saja, Aburizal Bakrie dengan Bakrie Motor-nya, Tommy dengan Timor-nya atau Shinivasan dengan Perkasa-nya. Kebetulan karena berbagai sebab yang berbeda semuanya tidak ada yang berhasil tetap berbisnis untuk waktu yang lama. Masing-masing punya kelemahan, punya titik lemah yang berbeda, yang menjadi titik awal kegagalan Mobil Nasional mereka. Walaupun kasus kegagalannya berbeda, tetapi akhirnya selalu digeneralisasikan orang bahwa Mobil Nasional itu tidak mungkin dilaksanakan sehingga tidak patut kita pikirkan.

Ada yang berfikir bahwa kita tidak punya uang yang cukup untuk mewujudkannya. Ada yang bilang kita tidak punya teknologi proses untuk membuatnya, ada juga yang bilang kita tidak punya orang untuk melaksanakannya.

Masing-masing kita punya gambaran sendiri-sendiri tentang produknya, bagaimana proses membuatnya dan siapa yang harus memiliki kemampuan yang seperti apa yang dibutuhkan untuk membuatnya. Kita seperti, maaf, cerita 5 orang buta yang memegang gajah di tempat-tempat yang berbeda dan masing-masing ngotot dengan persepsinya masing-masing.

Padahal, untuk menyatakan pendapat soal ini, seharusnya kita lebih spesifik berbicara dengan data mengenai apa, bagaimana Mobil Nasional yang dinilai secara kasus per kasus. Begitu banyak jenis mobil, begitu banyak teknologi proses untuk mewujudkannya, sehinga begitu bervariasi kebutuhan investasi dan modal kerja untuk mewujudkannya.

Pandangan bisa keliru bila kita tidak memiliki data dan pengetahuan yang cukup mengenai sesuatu yang ingin kita komentari. Sebaiknya kita bicara lebih spesifik karena kita hanya mampu menilai secara kasus per kasus.

Pernah kita catat Teddy Rahmat sebagai Presiden Direktur ASTRA saat itu, pada suatu kesempatan menyatakan pendapatnya bahwa jangan kita bermimpi bikin mobil untuk menjadi saingan TOYOTA, kalau di bisnis payung mungkin kita bisa menjadi Toyotanya  payung.  Itu adalah opini ia pribadi mengenai kemungkinan pengembangan industri Mobil Indonesia. Mungkin kebetulan pada saat itu obsesinya adalah industri kecil menengah yang ia bangun melalui kelompok MITRA  pada waktu itu. Padahal tidak selalu mengembangkan Mobil Indonesia itu harus berarti menyaingi Toyota. Katakanlah kalau di industri roti, ada BreadTalk ada Sari Roti. Yang tepat adalah Mobil Nasional harus direncanakan dan diwujudkan secara teknis dan diposisikan secara marketing untuk mampu bersaing, agar jadi kebutuhan pasar dan dibeli orang, begitu.

Pro kontra terhadap gagasan pengembangan Mobil Indonesia sering kita dengar. Opini terhadap cita-cita memiliki industri Mobil Indonesia sering dihadapkan kepada kompleksitas sistem mobil sendiri yang pada akhirnya memerlukan multi kompetensi dan menuntut kordinasi keterlibatan dari banyak pihak dalam pengembangannya mulai dari perencanaan, produksi sampai ke pelayanan pasca jualnya. Suatu rangkaian industri yang panjang mulai dari industri penyediaan bahan baku sampai ke pendauran ulang.

Sehingga investasi yang besar untuk merangkai semua kegiatan dalam derap yang serasi menjadi sangat rentan terhadap kegagalan. Melibatkan sistem produksi yang rumit dengan perencanaan dan pengendalian yang berjalan ketat. Karena resiko yang tinggi ini, maka masalah prioritas penggunaan modal menjadi krusial.

Mungkinkah mobil nasional Terwujud ? Jawabannya bergantung kepada apa dan bagaimana mobil nasional dipersepsikan. Bottom rocknya adalah kita mampu mewujudkan mobil nasional saat ini, bila  mobil nasional adalah dengan asumsi berikut ini:

1. Mobil nasional disini dimaksudkan sebagai mobil yang brandnya dimiliki pengusaha nasional, dengan usaha design dan engineering sendiri menetapkan pola dan sasaran bisnis sendiri, membangun pasar dengan memilih sasaran pasar, memposisikan produk dalam kancah persaingan, merencanakan dan menetapkan karakteristik produk, mendesign dan memvalidasi design tersebut.  Singkat kata, mobil nasional adalah mobil yang majikannya adalah kita sendiri.

2. Dengan dasar kita menjadi majikan dari produk tersebut, tidak relevan lagi untuk mempersoalkan apakah semua harus dibuat lokal atau impor. Semua keputusan pemilihan dan pembelian bahan baku dan komponen berdasarkan atas acuan Quality, Cost dan Delivery utamanya dan pertimbangan lain atas dasar kelaikan bisnis. Sasarannya adalah buat nilai tambah sebesar besarnya untuk kita di dalam negeri, rebut creamnya lebih besar dari yang kita terima sekarang.

3. Prioritas utama adalah fokus pada sasaran membangun bisnis melalui mengantarkan produk yang diminati dan dibeli oleh pasar. Fokus dulu di pengembangan produk dan pengembangan pasarnya. Ukurannya adalah feasibility, profitability dan sustainability bisnisnya.  Produk unggulan adalah produk yang dicari, dipakai dan dibeli. Bukan produk yang paling indah, bukan yang paling canggih, paling kuat dsb.  Produk unggulan adalah optimasi semua aspek dengan kompromi yang paling tepat, seimbang antara harga dan kualitas pemenuhan kebutuhan tuntutan pasar . Dan strategi bisnis harus mulai dari sana.

4. Semua step yang direncanakan harus dilaksanakan. Kejelasan sasaran dan perencanaan bisnis dari awal diperlukan untuk mendapatkan komitmen pendanaan dan kalkulasi risiko bagi semua stake holder yang terlibat. Ketidak sepahaman sasaran dan kesalahan perencanaan mengakibatkan terlunta luntanya project sehingga tidak semua langkah yang harus diambil bisa terjadi. Akibatnya keraguan dan ketidak sepahaman terjadi, sehingga proyek terhenti sebelum waktunya.

5. Perencanaan produk dan design produk  didasarkan atas permintaan pasar. harus berupa “pull”, tarikan pasar bukan “pull” dorongan dari keinginan sendiri. Pengenalan tuntutan pasar mengenai jumlah kebutuhan, kualitas yang diharapkan dan tingkat harga untuk kebutuhan ini menjadi sangat penting. Karena semua sasaran, perencanaan dan teknologi harus ditujukan menjawab kebutuhan tersebut. Tingkat kepastian forecast menentukan apa dan bagaimana produk yang harus dijual.

6. Teknologi tersedia untuk membuat jawaban yang optimum terhadap medan bisnis yang dihadapi. Tercakup di dalam teknologi ini  strategi bisnis, strategi pasar, strategi produk, strategi design, strategi process manufacturing, strategi teknologi untuk investasi persaingan jangka panjang sesuai kondisi persaingan di pasar sasaran.

7. Dari segi volume quantity perlu disajikan beberapa pilihan skenario produk untuk market proofing. Caranya dengan menyajikan beberapa pilihan konsep produk sejak saat awal, sehingga punya reserve mana yang bisa jalan, mana yang sebaiknya dihentikan. Investasi disesuaikan dengan berapa quantity yang hendak diwujudkan.

8. Dari segi investasi, pendatang baru harus memanfaatkan kebaruannya untuk mempertajam policy investasi sesuai dengan peta kondisi persaingan yang sesungguhnya. Kehati-hatian dan kecermatan mengantisipasi pasar sangat menentukan ketepatan cost yang harus dicapai. Karena profit dibuat pada saat kita membeli, bukan pada saat menjual.

9. Keterkaitan dengan pihak rantai supply dan rantai distribusi dimulai dengan sejauh mana kita bisa meyakinkan risk dan gain yang bisa didapat, sehingga bagi bagi risiko bisa terjadi. Ketidak efisienan dari operasi awal ini harus teridentifikasi dan terakomodasi dalam strategi pemasarannya.

10. Yang terpenting adalah ambil tindakan nyata sekarang. Semua asumsi di atas harus diverifikasi melalui pewujudan konsep dan fisik design produk yang dikomunikasikan untuk cari data untuk feasibility study dan feed back pasar.  Langkah awal ini harus dilalui dangan action plan yang nyata dan data hasilnya dianalysis dan digunakan untuk perencanaan bisnis selanjutnya.

Peran Pemerintah

Kemunculan beberapa prototype mobil yang dikembangkan lokal hasil kreasi   ESEMKA, Fin Komodo, GEA, Tawon dan lain lain yang sudah memeprsiapkan infrastruktur industrinya akhir akhir ini patut dihargai.  Mereka sudah mampu mewujudkan kendaraan yang setidaknya sudah bisa berfungsi.

Pancingan walikota Solo Joko Widodo behasil memicu opini publik dan menggugah kerinduan akan adanya mobil nasional.

Melandasi semua itu sebenarnya kita semua pasti ingin bisa  mempertinggi nilai tambah dari industri mobil yang selama ini sudah tumbuh, tetapi dengan merk asing. Industri otomotif kita masih pada level operator yang policy dan strateginya masih dikuasai pemegang merk di luar negeri. Sehingga profit terbesar masih dibawa pulang ke negerinya.

Keinginan ini mungkin lebih mudah bila diilustrasikan setara seperti yang digambarkan oleh bapak rektor UKI Maruli Gultom di industri pertanian. Kita penghasil coklat, tetapi coklat terbaik tetap adalah coklat yang dibuat di Swiss. Kita penghasil karet, tetapi penghasil ban berkualitas tinggi untuk kecepatan lebih dari 300 km/jam saat ini adalah Michellin dari  Perancis ? Kita masih kurang memberi input teknologi terhadap bahan dasar, sehingga nilai tambah proses di dalam negeri sangat kecil.

Di produk industri otomotifpun demikian. Kita masih belum menjadi master dari produk kita sendiri.

Karena pemerintah harus berfungsi sebagai regulator, maka peran yang diharapkan dari pemerintah ini adalah bagaimana kita bersama sama mencapai penambahan nilai sebesar besarnya di dalam negeri untuk produk industri otomotif.

Apakah ini kesalahan pemerintah?  Tidak seluruhnya kesalahan bisa dilimpahkan kepada pemerintah.  Yang pasti adalah kita masih kekurangan teknopreneur yang menekuni industri. Pelaku industri masih seperti operator yang menjalankan mesin yang dibuat blueprintnya oleh orang lain. Kita masih belum merdeka dari kekurangan knowhow. Pelaku industri baru bisa menjalankan industri atas dasar standard orang lain, tetapi sedikit punya kesempatan mengembangkan teknologi dan  menyusun standard sendiri.

Bila teknopreneur ini banyak, mereka diharapkan akan melengkapi  kekosongan struktur industri. Mereka harus mengembangkan teknologi dan standard perusahannya sendiri,  sehingga cukup sumber daya untuk mendukung pengembangan produk baru mobil nasional. Mereka harus bisa akses ke teknologi, karena mau tidak mau mereka harus bersaing untuk hidup dan berkembang.

Tetapi, agar hal ini bisa terjadi, perlu disiapkan dulu siapa pasarnya untuk menyerap hasil para teknopreneur baru ini?   Di sinilah diharapkan ada produk akhr mobil nasional yang menjadi lokomotif kebangkitan industri mobil nasional. jadi harus ada dulu orang orang yang mau venture ke sana. baru pemerintah mengatur, mendorong dan memfasilitasinya. Mobil nasional menjadi sarana mereka aktualisasi membentuk kemampuan bersaing secara nyata.

Dorongan pengembangan industri komponen yang menjadi prioritas kebijakan kementrian perindustrian sulit diwujudkan bila pasarnya tidak tersedia. Industri otomotif yang sudah mapan sulit ditembus pemain baru yang notabene belum punya teknologi yang mapan. Padahal punya teknologi menjadi kriteria kemitraan rantai supply industri otomotif. Dengan teknologi mereka bisa bersaing QCD dan Teknologi yang dibutuhkan merk mobil buat bersaing bertahan hidup dan berkembang.

Pemerintah memfasilitasi agar  teknopreneur ini subur berkembang dan berkonglomerasi membentuk struktur indiustri yang sehat dan berdaya saing, tanpa harus diintervensi dengan kebijakan-kebijakan yang memihak kepada merk asing yang berdampak pada mematikan industri mobil nasional milik kita sendiri yang sedang dalam proses pengembangan.

Pemerintah bisa memulai usaha ini dengan menyusun grand design dari industri otomotif nasional.  Mulai dari pasar sampai dengan target untiuk masing masing tahap business process. Set sasaran sasaran dengan  target yang dapat dicapai berdasarkan masing masing tahap tersebut. Kembangkan pasar mobil nasional ini melalui skema pembelian pemerintah, pemerataan ke daerah dan sebagainya. Buat insentif fiskal berdasarkan pencapaian target seperti dulu kita lakukan insentif untuk muatan local content, dsb.

Jadi peran pemerintah adalah mengembangkan peta jalan menuju ke sana dan mengendalikannya. Biarkan swasta yang menjalankannya.

Membangun Mindset Industri Mobil Nasional


Mobil Nasional sering dipandang memiliki dua muka.  Sering Mobil Nasional dipandang sebagai tahayul yang ditakuti, dijauhi, dipandang tidak ada gunanya dipikirkan bila kita tidak punya uang. Dibilang adalah dosa bila kita menggunakan uang yang hanya sedkit untuk sesuatu yang resikonya terlalu besar.

Di pihak lain, Mobil Nasional digambarkan terlalu sederhana. Seakan-akan asal bisa gabungkan komponen-komponen mobil, setiap orang yang memiliki bengkel bisa bikin Mobil Nasional. Mobil Nasional dipersepsikan secara naif sehingga ditertawakan dan ditinggalkan orang karena dianggap sebagai mainan penghayal yang tidak serius dan tidak memiliki prospek bisnis yang nyata.

Sering kita dengar bahwa orang Indonesia punya hambatan kultural untuk menjadi pelaku industri karena latar belakang kultur kita agraris yang kurang proaktif cenderung menunggu, lebih biasa dengan budaya lisan kurang mampu menulis, kurang kepekaan terhadap waktu dan angka, kurang mampu analysis bertindak segera dan cepat, mudah kompromi dan merubah sasaran, cenderung berusaha secukupnya dsb.

Tetapi fakta di industri yang ada menunjukkan bahwa dengan management yang baik, bila disediakan pengaturan yang baik, orang Indonesia mampu lebih baik dari bangsa lain, sebut saja dibandingkan dengan orang Jepang misalnya.

Yang penting adalah perencanaan dan persiapan untuk pengendalian yang baik selalu harus ada.

Kelemahan kita umumnya kurang perhatian dan persiapan untuk meng-establish mindset ini. Padahal tidak selalu bahasa dan sistem nilai masing-masing orang itu sama, sedangkan industri menuntut orang bekerja seperti robot, dengan sikap yang sama, ketrampilan yang standard, metoda, bahan dan alat yang standard, sasaran dan jadwal waktu yang direncanakan dsb.

Mindset industri harus disiapkan bersamaan dengan set up perusahaan, penyiapan produk dan fasilitas produksinya. Harus ada kesadaran bahwa nyawa atau jiwa industri ini tidak terbentuk dengan sendirinya, tetapi harus disepakati, dibina dan direncanakan, dipelihara dan dikembangkan. Nyawa ini sering terlihat menjadi ciri yang membedakan antara industri yang dibina dengan campur tangan asing (pma misalnya) dengan industri yang sepenuhnya dikembangkan lokal.

Beberapa point mindset yang dibutuhkan bila kita ingin membentuk industri mobil nasional diantaranya adalah aspek-aspek seperti berikut:

1. Bertindak sesuai standard.

Ada definisi dan aturan yang ditetapkan untuk segala sesuatu yang menyangkut metoda, alat, proses dan ukuran keberhasilan proses, pengetahuan dan ketrampilan, produk dan ukuran keberhasilan produk, dll. Segala sesuatu disiapkan aturannya, pedoman pelaksanaan dan target pencapaiannya, batasan waktu, tempat dan kriteria yang jelas. Mula-mula, setiap yang berulang, selalu harus punya aturan yang disepakati. Kemudian kesepakatan yang terbukti baik harus dituliskan sebagai stadard. Akhirnya hanya dengan standard itu pekerjaan boleh dilakukan. Standad itu sewaktu-waktu ditinjau kembali dan standard dirubah untuk perbaikan, bila ada yang lebih baik. Setiap hal ada standarnya sebagai pedoman kerja dan acuan penilaian hasil kerja. Standard ini menjadi referensi acuan dan semangat untuk pengaturan selanjutnya yang berkembang dan selalu ditingkatkan. Standard mencakup semua aspek teknis operasional, aspek ketenaga-kerjaan, keuangan dan administrasi umum yang diperlukan oleh bisnis.

Contohnya:
-Setiap barang punya lokasi tempat yang ditetapkan dan barang tersebut selalu diatur kembali ketempatnya pada waktu yang ditetapkan pula.
-Setiap proses punya syarat ketrampilan apa yang dibutuhkan dari operatornya, jelas batas baik buruknya, jelas urutan kerja dan ukurannya, jelas alat dan bahannya, jelas cara kerjanya, jelas kondisi kerjanya, jelas apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, dst.
-Setiap material yang digunakan punya tuntutan spesifikasi yang jelas dan dipastikan bukti pemenuhannya dengan sampling pengujian berkala dsb.
-Setiap lokasi dan aset ada penanggung jawabnya dengan aturan kebersihan, keteraturan, pemeliharaan yang jelas.

2. Bekerja sistem penyusunan program dengan target dan sasaran yang jelas.

Seperti juga dengan standard untuk aturan umum, program yang dijalankan selalu berdasarkan rencana dan sasaran yang sudah disepakati bersama sebelumnya.

Pengaturan kerja memastikan koordinasi dan sinkronisasi sinergi antar bagian untuk optimisasi sumber daya yang terbatas.

Agenda dan jadwal pekerjaan. prioritas dan pembagian kerja selalu harus jelas dan disepakati sebelumnya.
Sehingga Deming mengambarkannnya dalam suatu siklus PDCA (Plan, Do, Check dan Action). Perencanaan harus menyeluruh dan memenuhi unsur 5W + 1H yang mewakili seluruh aspek yang harus dipersiapkan.

Target harus diambil secara SMART (Simple, Measurable, Achievable, Reasonable dan Timely). Ada daftar dari parameter dan variabel yang dipilih sebagai ukuran dengan nilai pencapaian yang dituntut yang disepakati sebagai ukuran keberhasian yang dievaluasi dari waktu ke waktu. Hasil kerja dilaporkan, dibandingkan dengan rencana, dianalysis dan diambil keputusan tindak lanjutnya secara berkala. Sehingga akhirnya dapat kita lihat, setiap keputusan selalu diikuti dengan control point ukuran keberhasilan yang menjadi sasarannya.
Program disusun lengkap dengan kebutuhan spesifik tenaga kerja dan anggaran biaya yang dibutuhkan.

3. Punya metoda, standard kerja yang dilengkapi dengan ukuran-ukuran pencapaian, ukuran-ukuran kualitas yang diharapkan, batasan-batasan kondisi kerja, data empiris untuk performance, bench mark untuk best practice, dsb.

Metoda ini memiliki referensi yang jelas yang digunakan sebagai patokan dasar untuk perencanaan kualitas, design dan pengembangan perbaikan selanjutnya. Standard kerja ditetapkan untuk setiap langkah proses yang dilaksanakan untuk setiap item produk yang dikerjakan. Standard kerja menjamin efektifitas dan efisiensi keja dan keandalan untuk kemampuan proses. Perencanaan standar kerja ini ditetapkan bersamaan pada saat perencanaan kualitas dalam pengembangan setiap produk baru dan dievaluasi untuk dikembangkan untuk perbaikan selanjutnya. Pengembangan produk harus disertai dengan perencanaan kualitas secara bersamaan, sehingga ada jaminan bahwa produk yang dikembangkan sesuai dengan harapan pembeli.

Pengetahuan yang melampaui kebutuhan operasional saat ini perlu ada untuk menjamin tersedianya solusi dan kemampuan bersaing dan berkembang dalam menghadapi perubahan di pasar.

4. Punya system untuk komunikasi, perencanaan, pelaksanaan, pelaporan, penanggulangan masalah, penanganan penyimpangan, pengambilan keputusan, peninjauan. penilaian, pengembangan dsb.

System ini mengatur pembagian kerja dengan tugas, sasaran dan kewenangan yang jelas. System ini mengatur aliran kerja dangan kriteria hasil yang jelas. System harus mengakomodasikan aturan untuk penanganan terhadap penyimpangan, rencana darurat bila terjadi penyimpangan serta langkah penaggulangan masalah yang terjadi. System harus mendefinisikan langkah yang disepakati untuk perencanaan bisnis, perencanaan kualitas, pengembangan produk, perencanaan produksi, pemasaran dan penjualan serta dukungan finansial, administrasi umum dan general affair.

5. Punya nilai-nilai perilaku yang disepakati sebagai kultur kerja yang diharapkan dan diterapkan secara konsisten. Pembentukan sikap, nilai dan norma bersama ini dibuat tertulis, dituntut dan diucapkan sebagai permintaan, dicontohkan atasan dan dijaga dengan reward dan punishment yang konsisten.

Terbinanya iklim komunikasi yang sehat perlu untuk memperkecil friksi dan hambatan untuk bekerja sama secara fair, firm and friendly. Spirit kerja yang tinggi mendukung kreatifitas dan produktivitas kerja. Pembentukan team work disupport oleh sikap saling menghargai, tidak saling menyalahkan, orientasi terhadap solusi berdasarkan kesepakatan bersama, penghargaan yang setimpal untuk prestasi, kesempatan yang sama untuk berkembang, perlakuan yang adil dalam pengaturan upah dan penyelesaian konflik dsb.

6. Menguasai detail setiap langkah proses bisnis dan proses transformasi material untuk produk yang dihasilkan.

Penguasaan proses memastikan tercapainya kualitas yang direncanakan dengan tingkat harga yang sesuai untuk mencapai profit yang ditargetkan. Penguasaan proses memungkinkan pengambilan keputusan yang optimum berdasarkan pertimbangan cost benefit ratio yang jelas unuk mencapai efektifitas, efisiensi dan produktifitas yang diharapkan. Penguasaan proses mendorong usaha menciptakan ongkos produksi serendah-rendahnya melalui improvement. Penguasaan proses memastikan kualitas hasil yang direncanakan dan kemampuan recovery bila terjadi penyimpangan yang tidak diharapkan. Pelatihan yang memadai memastikan operator yang siap dan handal. Penguasaan proses memastikan keandalan sistem produksi dengan pengendalian kemampuan proses secara konsisten tanpa harus terkaget-kaget dengan hambatan tiba-tiba yang tidak diharapkan. Pada dasarnya, bila prosesnya tidak dikuasai, sebaiknya jangan berbisnis. Karena tanpa penguasaan proses bisnis sulit dikendalikan.

7. Menguasai medan, pergerakan, trend perkembangan pasar dan bisnis secara keseluruhan.

Profit harus selalu menjadi tujuan dari bisnis, sehingga pendapatan perusahaan dapat selalu berkembang, mengimbangi kenaikan biaya overhead. Perlu kesadaran bahwa semua operasional disesuaikan dengan tujuan bisnisnya. Sehingga bisnis harus direncanakan, direview dan dievaluasi secara berkala. Perlu disiapkan alat untuk memonitor dan menganalysis perubahan yang terjadi di pasar. Sehingga mampu mengantisipasi perubahan dan merencanakan ekspansi sesuai sasaran yang tepat untuk sustainable dan berkembang di pasar.

Perlu kemampuan untuk mengantisipasi perubahan moneter dan hambatan finansial, financial engineering untuk pendanaan dsb. Perlu disadari bahwa profit harus didapat dari efisiensi dengan membuat ongkos produksi serendah-rendahnya dan menghindari pemborosan dari penyimpangan yang terjadi terhadap rencana.

Cita-cita adanya mobil nasional selalu kandas di tengah jalan

Jokowi dan Esemka Rajawali
Solo memberikan kejutan manis pada awal tahun kemarin. Joko Widodo, sang walikota, mengumpulkan wartawan di tempatnya berkantor pada 2 Januari lalu dan memperkenalkan mobil dinas terbarunya. Dengan bangga ia berpose di depan mobil anyarnya itu. Merek mobil itu Esemka Rajawali. Dan sebagaimana si walikota, mobil itu aseli kelahiran Solo.

Sontak kehadiran Esemka membesut perhatian. Mobil ini pun kemudian disebut-sebut sebagai momen untuk membangkitkan kembali gairah memiliki mobil nasional atau mobnas. Jokowi, sapaan akrab Joko Widodo, bahkan bersemangat sekali mendukung Esemka. “Nantinya Esemka dibangun lewat Usaha Kecil Menengah (UKM),” katanya kepada Prioritas. Ia pun siap menampik seandainya ada investor asing yang berniat mencaplok Esemka. “Harus modal dalam negeri.”

Esemka Rajawali adalah mobil dengan kapasitas mesin 1.500cc. Pengerjaannya dibuat oleh siswa SMK. Mobil ini berkapasitas lima sampai tujuh orang, setara dengan kebanyakan mobil dinas yang sering digunakan berbagai instansi pemerintah. Dilengkapi dengan sistem central lock, audio, power window, AC, dan sensor parkir. Hanya saja, di bagian mesin ada beberapa komponen yang sampai saat ini masih harus impor dari Cina. Mobil yang dibanderol Rp75 juta ini pun telah memiliki Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM), yakni PT. Solo Manufaktur Kreasi (SOMAN).

Jika mau merujuk ke belakang, sesungguhnya bukan pertama kalinya Indonesia gegap-gempita soal mobnas. Pada pertengahan dekade 70-an, Indonesia mengenal Mobil Rakyat Indonesia alias Morina. Mobil ini sempat meluncur di jalan-jalan pada saat itu. Morina dirakit oleh PT. Garmak Motor yang dinahkodai Probosutedjo. Pada 1976, mobil yang memiliki kandungan lokal sebanyak 40 persen ini dihargai Rp1,25 juta. Termasuk murah untuk ukuran pada saat itu, di mana harga kendaraan roda tiga Bajaj harganya Rp1 juta. Sayangnya, Morina tidak berumur panjang. Mobil ini hanya mampu bertahan lima tahun, digusur Toyota yang merilis Kijang setahun kemudian dengan harga Rp1,5 juta.

Memasuki dekade 90-an, BJ Habibie, Meristek kala itu, berupaya memproduksi Maleo yang digadang-gadang akan menjadi mobnas. Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) ditunjuk untuk membuat konsep dan mendesain rancangannya. Namun, Maleo kemudian berhenti hanya sampai tahap rancangan.

Lalu ada pula nama-nama seperti Marlip (mobil listrik keluaran LIPI), MR 90, Kalla Motor, Bakrie Beta 97 MPV, Gang Car, Komodo, Arina, Nuri, Tawon, GEA sampai Wakaba. Yang paling menarik perhatian, tentu saja Timor dan Bimantara. Kedua mobil ini diproduksi oleh perusahaan milik dua anak Soeharto, presiden Indonesia kala itu, yakni Tommy dan Bambang. Pun demikian, hingga hari ini tidak ada satu pun mobnas yang bertahan. Satu persatu mobnas runtuh, seolah tak pernah sanggup menggeser dominasi ATPM mobil luar negeri.

Dewa Yuniardi
“Ada banyak kemungkinan penyebabnya,” tutur Dewa Yuniardi, Ketua Marketing dan Komunikasi Asosiasi Industri Automotive Nusantara (ASIANUSA). Salah satunya adalah budaya masyarakat. Bisa jadi, katanya, masyarakat kita memang cenderung tidak memilih produk lokal. Sehingga seandainya ada mobnas berharga murah , pilihan masyarakat tetap jatuh kepada merek asing. Namun, katanya menambahkan, bisa jadi pula ada tekanan dari pihak luar terhadap pemerintah. Dewa tidak mau menyebutkan siapa yang ia maksud dengan pihak luar. Yang jelas, dalam amatan Dewa, ada beberapa kebijakan pemerintah yang terasa menyudutkan para produsen mobil lokal. Dewa memberi contoh kasus saat Texmaco Perkasa memproduksi truk. “Saat itu pemerintah malah mengeluarkan kebijakan bea nol persen untuk impor truk,” kata Dewa.

Dewa juga mengkhawatirkan kebijakan mengenai kebijakan Low Cost Green Car (LCGC) yang menurut rencana akan dikeluarkan pemerintah pada Februari ini. Dalam kebijakan itu disebutkan bahwa pemerintah akan menerapkan insentif kebijakan fiskal bagi mobil yang ramah lingkungan. Menurut Dewa, kebijakan ini sudah pasti akan dimanfaatkan oleh pabrik besar atau ATPM sehingga mobil mereka akan berharga murah. “Pemerintah seperti menekan kami,” tutur Dewa.

Menteri Perindustriaan MS Hidayat dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR, Selasa pekan lalu, menolak jika dikatakan pemerintah menghambat perkembangan mobnas. “Pemerintah pada dasarnya mendukung inisiatif merek-merek mobil nasional untuk tampil dan berkembang,” Katanya. Pemerintah pun saat ini juga telah memberi beragam dukungan, mulai promosi sampai pemberian izin berupa Nomor Identifikasi Kendaraan (NIK). Selanjutnya, kata MS Hidayat, pemerintah akan mengupayakan agar kandungan lokal di mobnas bisa mencapai setidaknya 80 persen.

Menanggapi soal kandungan lokal, Dewa kembali mengaku tak sejalan dengan pemerintah. Menurutnya, suatu produk tidak harus memiliki kandungan lokal untuk disebut sebagai produk asli negara asal merek. “Produk Amerika itu belum tentu memiliki kandungan lokal Amerika,” katanya. Yang terpenting, menurut pria yang juga Direktur Marketing PT. Fin Komodo Teknologi ini, produsen mobil Komodo, pemegang merek haruslah lokal. Dengan menjadi pemegang merek, menurut Dewa, industri otomotif akan bisa berkembang melebih ATPM . “Karena sebesar-besarnya ATPM, dia tidak bisa mengembangkan dirinya sampai ke luar negeri, berbeda dengan pemegang merek,” katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi VI Aria Bima menyebutkan bahwa saat ini DPR tengah mengagendakan pembentukan Panitia Kerja (Panja) mengenai mobnas. Tujuannya, agar euforia mobnas yang ada saat ini lebih terintegrasi dan tersistemasi dengan baik sehingga cita-cita agar Indonesia memiliki mobnas lekas terwujud. “Harus dikawal agar tercipta roadmap yang jelas,” ucapnya pada Prioritas.

Pada akhirnya, menurut ekonom dan pemerhati transportasi Eryus AK, keputusan politik memang penting. Eryus menilai bahwa kegagalan kegagalan mobil nasional selama ini memang politik. “Pemerintah lebih condong kepada industri luar negeri,” ujarnya. Menurut guru besar Sekolah Tinggi Manajemen Transportasi Trisakti ini, dukungan pemerintah yang sudah-sudah lebih terasa hanya sebagai semboyan semata. “Realisasinya gak ada.”

Sumber:  http://padamujua.wordpress.com

Fin Komodo Electric Car - The Next Fin Komodo Generation

PT. FIN KOMODO TEKNOLOGI, adalah perusahaan swasta Nasional yang bergerak di bidang Rekayasa & Teknologi ( Engineering & Technology ), yang telah berpengalaman dalam bidang design dan analisa pesawat terbang, otomotif, simulator, dan integrasi sistim otomasi.

Khusus bidang otomotif, kami telah berpengalaman merancang dan memproduksi sebuah kendaraan unconventional untuk medan non infrastruktur yang kami beri nama FIN Komodo, sebuah kendaraan yang sangat ringan dan tangguh, untuk menjelajah medan Indonesia.

FIN Komodo ini merupakan hasil R&D kami sejak tahun 2005 dan saat ini telah masuk pasaran Indonesia, untuk melayani operasional bidang Perkebunan, Pertambangan, Rekreasi, dll

Dengan kemampuan kami dalam merancang dari sebuah kendaraan yang ringan maka jika penggerak nya menggandalkan motor listrik atau hybrid, kendaraan ini akan sangat efisien, karena bobot total yang ringan sehingga menghemat energy listrik.
Dari Platform yang sudah kami miliki yang saat ini dan sudah teruji di pasar dengan bermesin motor bakar 250cc, sehingga mudah di transformasikan menjadi Mobil Elektrik, karena:
  1. Bobot Ringan sehingga sangat efisien
  2. Stabil di medan yang ekstrem, tidak mudah terguling walaupun pada kemiringan 45 derajad.
  3. Kenyamanan suspensi saat di medan offroad, seperti suspensi sedan dijalan aspal.
  4. Metoda perancangan dan analisanya menggunakan metoda perancangan Pesawat Terbang.
  5. Platform kami rancang sebagai platform yang multi-purposes.
  6. Mudah dikendarai walaupun pada medan ekstreem, karena kestabilan dirancang dengan perhitungan yang akurat.
  7. Perawatannya mudah.

Kebijakan LCGC Dinilai Untungkan Pabrikan Asing

Pemerintah Diminta Tak Hambat Embrio Mobnas

JAKARTA – Rencana Menteri Perindustrian untuk memberi insentif kepada perusahaan mobil murah dan ramah lingkungan atau low cost and green car (LCGC), mulai mendapat penolakan. Pasalnya, kebijakan itu dikhawatirkan berpotensi menghambat pengembangan mobil nasional (mobnas).

Wakil Ketua Komisi VI DPR, Aria Bima, menyatakan, insentif yang rencananya akan diberikan kepada produsen mobil besar anggota Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) agar membuat mobil berkapasitas mesin antara 1000-1.200 cc, sama saja menghambat pengembangan mobil nasional yang murni buatan anak bangsa sendiri. Politisi PDI Perjuangan itu mencontohkan, mobil Kiat-Esemka yang memiliki kapasitas mesin 1500 cc yang digadang-gadang bakal menjadi embiro mobnas bisa terjegal kebijakan pemerintah.

“Jika diteruskan, kebijakan ini sama saja menghadap-hadapkan embrio mobil nasional, seperti Kiat-Esemka, Gea, Tawon, dengan raksasa-raksasa industri otomotif dunia,” kata Aria Bima kepada JPNN, Selasa (17/1).

Lebih lanjut dikatakannya, semestinya pemerintah mengutamakan regulasi yang berpihak pada mobil buatan dalam negeri yang bisa dijadikan mobil nasional. Dengan demikian, katanya, mobnas itu bisa bersaing dengan mobil yang dijual Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) asing yang sudah menguasai hampir seratus persen pasar mobil Indonesia.

“Insentif mestinya diberikan kepada industri mobil nasional yang masih lemah dan tertatih-tatih. Bukan malah untuk raksasa industri mobil multinasional,” katanya.

Sedangkan Ketua Asosiasi Industri Automotive Nusantara (Asia Nusa), Dewa Yuniardi, menilai pemerinah justru mengabaikan potensi sumber daya lokal. “Kondisi ini akibat kebijakan yang keliru para petinggi negara ini. Sumber daya lokal kita sebenarnya mampu, tetapi kesempatan seolah-olah ditutup selama puluhan tahun,” kata Yuniardi.

Ia mencontohkan pengenaan bea masuk 10 persen bagi impor mesin bagi para produsen merek nasional. Sementara agen tunggal pemegang merek asing yang mengimpor mesin-mesin tersebut, justru dibebaskan dari pengenaan bea masuk. “Itulah sebabnya, kemandirian industri otomotif Indonesia sangat rendah,” katanya.

Seperti diketahui, Menteri Perindustrian MS Hidayat pekan lalu menyatakan, regulasi mobil murah akan segera diterbitkan dalam waktu dekat. Draft regulasi itu kini sudah masuk Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan dan tinggal menunggu persetujuan. Regulasi antara lain akan memberi insentif keringanan pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM).(ara/jpnn) 

Sumber:  http://m.jpnn.com/news.php?id=114460

PENJELASAN ASIANUSA:

Mengingat banyaknya pertanyaan sehubungan hal tersebut, maka berikut kami berikan sedikit ulasan kenapa hal tersebut menguntungkan pabrikan/pemegang merk asing dan merugikan pabrikan/pemegang merk nasional, penjelasan nya adalah sbb:

Pemerintah saat ini sedang menggodok kebijakan mobil murah, dimana dalam kebijakan tersebut ada 2 jenis kebijakan, yaitu:

1. Kebijakan Mobil Murah Angkutan Pedesaaan (untuk mobil bermesin dibawah 700 CC), dimana yang dipilih adalah GEA Pick Up, Tawon Pick Up dan Mahator, isi kebijakan tersebut adalah tentang insentif kebijakan fiskal dll.

2. Kebijakan LCGC (Low Cost Green Car), atau kebijakan Mobil Murah Ramah Lingkungan (untuk mobil bermesin 1.000 CC sd 1.200 CC), isi kebijakan tersebut adalah tentang insentif kebijakan fiskal dll.

Kedua kebijakan tersebut adalah merupakan paket Kebijakan Mobil Murah, yang akan dikeluarkan secara bersamaan, rencananya pada bulan Februari 2012 nanti .. dengar2 sih akan disosialisasikan pada tanggal 14 Februari 2012 karena bersamaan dengan hari Valentine :)

Kenapa kebijakan tersebut malah justru menguntungkan Pabrikan/Pemegang Merk Asing? Karena kebijakan tersebut pada poin 1 memang akan membantu perkembangan mobil nasional yang ber CC dibawah 700CC yang akan dinikmati oleh pabrikan/pemegang merk Nasional, tetapi jika dibarengi dengan kebijakan poin 2 maka hal ini justru mematikan pabrikan/pemegang merk Nasional, karena dengan diberikan insentif fiskal dll, maka harga dari mobil2 yang diproduksi pabrikan/pemegang merk asing akan turun jauh sehingga diperkirakan akan mencapai harga 80jutaan, sementara penurunan harga mobil produsen Asianusa dan Esemka tidak se-signifikan penurunan harga dari pabrikan/pemegang merk asing, pabrikan yang menikmati kebijakan LCGC harganya akan sedikit di atas mobil produksi pabrikan/pemegang merk Nasional.

Dengan diberikan nya kebijakan LCGC pada poin 2 tersebut, maka bisa dipastikan pabrikan/pemegang merk asing akan berbondong2 memanfaatkan kebijakan tersebut sehingga pabrikan/pemegang merk lokal akan bersaing head to head dengan pabrikan/pemegang merk asing.

Jadi kesimpulan nya, Kebijakan LCGC AKAN LEBIH MENGUNTUNGKAN Pabrikan/Pemegang Merk Asing, dan sekaligus AKAN MEMATIKAN Pabrikan/Pemegang Merk Nasional.

Bagaimana Sikap Asianusa ? Jika memang Kebijakan Mobil Murah Pemerintah Angkutan Pedesaan harus dibarengi dengan Kebijakan LCGC, maka sikap Asianusa adalah MENOLAK KEDUA KEBIJAKAN TERSEBUT, dan mohon agar pemerintah mengkaji kembali Kebijakan Mobil Murah yang akan dikeluarkan tersebut.

Dan jika masih diperbolehkan memilih, kami hanya ingin kebijakan yang berlaku pada industri otomotif yang sdh ada saat ini berlaku pula bagi Asianusa dan ESEMKA .. (mis: bea masuk 0% untuk impor mesin), dan lain2..



Salam ASIANUSA !

Definisi Mobnas Itu Seperti Apa Sih?

Syubhan Akib - detikOto

Jakarta - Dalam beberapa minggu terakhir Indonesia sedang mengalami demam mobil nasional atau mobnas. Tapi status Esemka sebagai mobnas dipertanyakan karena Esemka hanya mobil yang dirakit saja. Jadi sebenarnya apakah definisi dari mobil nasional tersebut?

Saat ini para pengembang mobil nasional seperti Fin Komodo, AG-Tawon, GEA, Kancil, Wakaba, Merapi dan Boneo merapatkan barisan membentuk sebuah perkumpulan bernama Asosiasi Industri Automotive Nusantara (Asia Nusa).

Asosiasi yang di deklarasikan pada Februari 2010 lalu menyepakati beberapa hal terkait definisi mobil nasional. Ketua Bidang Marketing dan Komunikasi Asia Nusa Dewa Yuniardi menjelaskan beberapa hal terkait hal itu.

Menurutnya kepada kepada detikOto, akhir pekan lalu ada 3 aspek pokok sebuah mobil nasional.

"Pertama pemilik perusahaannya adalah orang Indonesia. Kedua pemegang hak patennya adalah orang Indonesia dan ketiga pemegang mereknya adalah orang Indonesia," papar Dewa yang juga menjabat sebagai Direktur Marketing PT Fin Komodo Teknologi ini.

Dewa juga mengakui kalau ada perbedaan yang signifikan antara definisi mobil nasional yang dia katakan tadi dengan definisi mobil nasional yang diyakini oleh para industrialis Indonesia yang bergerak di perusahaan-perusahaan otomotif asing.

Bagi para industrialis Indonesia yang bekerja untuk perusahaan asing, definisi mobil nasional kebanyakan adalah sebuah mobil yang dirakit di Indonesia dengan komponen dan tenaga kerja Indonesia.

"Definisi memang berbeda-beda. Tapi sebagai gambaran, kalau definisinya seperti itu, kalau sebuah merek Jepang, misalnya, mengekspor mobil ke Afrika dari pabrik Indonesia yang pakai komponen Indonesia dan dirakit oleh orang Indonesia tetap saja orang Afrika tahunya itu mobil Jepang. Bukan mobil Indonesia," papar Dewa.

"Karena itulah kalau kita hanya punya pabrik dari merek asing, kita tidak akan berkembang dan tidak bisa buka industri baru di luar negara kita. Tapi kalau kita pakai merek sendiri, kita bisa bawa merek itu untuk buka pabrik di luar negeri," jelasnya lagi.

Sementara untuk memajukan industri mobil nasional, ada dua pihak yang bisa mempercepat kemajuan industri lokal ini yakni masyarakat dan pemerintah.

Sebab bila masyarakat mau menggunakan dan membeli mobil merek lokal dan mau menerima segala kekurangannya, ditambah bantuan pemerintah terutama berupa sokongan kebijakan, bukan tidak mungkin industri mobil nasional akan bergerak cepat.

"Bila kita bersama-sama, bahu membahu membangun negeri kita sendiri, saya yakin mobnas akan bisa tumbuh cepat," pungkasnya.

( ddn / ddn )

Fin Komodo Teknologi, Perusahaan Minimalis Yang Kaya Akan Teknologi

Cimahi – Namanya mungkin masih asing, Fin Komodo Teknologi. Tapi siapa sangka perusahaan yang berdiri sejak tahun 2005 di Cimahi Jawa Barat ini, telah memproduksi model sejenis Cruiser yang dimulai tahun 2006?

PT. Fin Komodo Teknologi adalah Perusahaan Swasta Nasional yang bergerak di bidang Rekayasa dan Teknologi, yang telah berpengalaman di bidang desain serta Analisis Pesawat Terbang, Otomotif, Simulator, dan Integrasi Sistim Simulator.

Perusahaan yang di bangun dengan luas lahan workshop untuk desain office dan manufacturing menempati lahan 1000 meter persegi, yang di lengkapi dengan peralatan workshop dan software desain serta analisis berstandar Industri Dunia.

Fin Komodo Produk Nasional karya anak bangsa yang di rancang oleh 5 insinyur Indonesia yang telah berpengalaman, serta 17 Teknisi tenaga ahli ini, di bawah pimpinan Ir. H. Ibnu Susilo selaku President Director.

Nah, akhir pekan lalu, Otomotifnet.com kesampaian mengunjungi pabrik Komodo di Cimahi, Jawa Barat. Sebuah pabrik yang minimalis, meski semua kebutuhan untuk membuat sebuah mobil rasanya sudah lebih dari cukup memenuhi.

Gudang Spare part, tempat perakitan dan pengecatan, laboratorium riset dan development, semua terdapat di satu atap, sehingga semua proses produksi KOmodo cukup dilakukan di satu tempat itu saja.

"Dalam mendapatkan Sparepart Fin Komodo, tidak perlu mencari keluar negri, di Indonesia pun sudah tersedia apa yang di perlukan untuk membuat Fin Komodo ini, karena kita memang mengarahkannya demikian," ujar Ir. H. Ibnu Susilo selaku President Director Fin Komodo Teknologi.

Sejauh ini, Fin Komodo ini sudah di kirim ke beberapa kota seperti Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi dan Papua, dalam sebulan mobil yang sudah terjual  sekitar 8 sampai 10 unit. (mobil.otomotifnet.com)

Dewa Yuniardi: Mobnas Bermain di Segmen Bawah

Jurnal Nasional | Sabtu, 8 Oct 2011
Darma Ismayanto
Mobil Nasional melalui AsiaNusa fokus pada pasar yang tidak digarap pabrikan luar negeri.

Belakangan pabrikan-pabrikan otomotif asal negeri luar begitu gencar menyerbu pasar otomotif Indonesia dengan berbagai macam produknya. Mulai dari kelas premium sampai kelas standar. Bukan hanya sekadar merilis produk-produk terbaru, mereka juga semakin gencar mengembangkan sayap bisnisnya dengan menanamkan investasinya di Indonesia.

General Motors misalnya, saat ini tengah mengembangkan dan menghidupkan kembali pabriknya di Bekasi. Rencananya Indonesia akan dijadikan basis produksi mobil multi fungsi murah Chevrolet PM7 di wilayah Asia Tenggara. Tak tanggung-tanggung, pabrikan asal Amerika Serikat ini menggelontorkan Rp1,2 triliun.

Daihatsu Motor Co. berinvestasi 20 miliar yen atau sekitar Rp2,1 triliun untuk meningkatkan kapasitas produksi mobil di pabrik Karawang, Jawa Barat. Seperti dikutip Nikkei, pabrik ini nantinya akan menjadi basis produksi mobil murah seharga Rp85-95 juta. Kabar yang beredar menyebutkan bahwa mobil A-Concept yang diperkenalkan pada Indonesia International Motor Show 2011 lalu, merupakan cikal bakal mobil murah ini. Seakan tak mau ketingglan, pabrikan mobil asal India, Tata Motors juga dikabarkan tengah menjajaki pembangunan pabrik mobil supermurah di Indonesia.

Di tengah euforia pabrikan asing menggarap pasar di Tanah Air, lalu bagaimana dengan nasib mobil nasional (mobnas) yang belakangan sebenarnya sedikit agak mulai menggeliat di bawah bendera AsiaNusa sebagai asosiasi wadah mereka membangun diri bersama. Saat ini AsiaNusa dikelola oleh beberapa produsen mobil nasional, antara lain Tawon, Wakaba, Fin (Komodo), Arina, Gea, dan ITM. Untuk mengetahu lebih jauh Darma Ismayanto dari Jurnal Nasional mewawancarai Dewa Yuniardi, Ketua Bidang Marketing dan Komunikasi AsiaNusa seputar kondisi dan kiprah mobnas saat ini. Berikut petikannya:

Apa kendala yang ditemui dalam memasarkan di Indonesia?

Sebetulnya kalau boleh dibilang tidak ada kendala ya. Jadi memang tidak semua orang itu kami jadikan target market. Artinya kami mencari ceruk pasar yang selama ini tidak digarap pabrikan luar negeri. Mobnas kami ini masuk ke pedesaan-pedesaan, mengambil segmen angkutan perdesaan seperti taksi-taksi rakyat yang tanpa argo itu. Jadi pangsa pasar yang dibidik memang berbeda.

Apa line-up mobnas yang akan segera diproduksi dan dipasarkan dalam waktu dekat?

Untuk pasarnya sendiri sudah siap tinggal tunggu produksi saja. Saat ini Tawon sudah mulai jalan produksinya jadi kami tinggal mengantar saja. Untuk GEA sendiri masih prepare line produksinya dan masih menunggu kebijakan seputar mobil murah dari pemerintah apakah benar akan diserahkan ke GEA atau tidak.

Tawon sendiri sebenarnya saat ini sudah banyak, pelat hitam. Tapi untuk di secara jual ritel belum, karena infrastrutur after salesnya belum terbangun. Saat ini kami jual ke grup, misalnya kami jual ke grup angkutan koperasi, begitu. Kalau itu kan kami gampang membangun infrastruktur aftersales-nya, jual mobil kalau tidak ada aftersales-nya cepat "habisnya" Mas.

Saat ini untuk Tawon sudah dipasarkan di mana saja?

Saat ini Tawon sudah dipasarkan di Banten, artinya pemasaran kita itu kan per grup kita kerja sama dengan koperasi angkutan. Nantinya akan menjadi seperti halnya taksi-taksi rakyat tanpa argo yang murah di mana tarifnya bisa tawar-menawar. Tawon target marketnya diarahkan ke sana.

Tawon sendiri kita banderol di kisaran harga Rp 50-70 juta. Untuk variannya sendiri Tawon ada tiga yang pertama itu tipe city car, ke dua itu Metro Tawon untuk angkutan penumpang dan barang, ke tiga transformer. Untuk varian lainnya akan segera menyusul, Tawon sudah banyak melakukan pengembangan produk.

Respons pasar terhadap produk-produk mobnas?

Respons pasar saat ini sangat baik. Ya itu, karena segmen pasar yang kita garap berbeda dengan pabrikan lain.

Program dari mobnas sendiri dalam penetrasi pasar otomotif?

Penetrasi pasar kalau dengan positioning sekarang sudah benar, kami dengan posisi saat ini di mana tidak berbenturan di pasar dengan produk otomotif yang sudah ada dengan tetap bermain di segmen di bawah 1000cc saya rasa sudah tepat.

Sekarang yang sedang disasar bagaimana cara meminimalkan biaya produksi. Kami sedang berencana membangun platform bersama, beberapa komponen dibuat bersama, sehingga dari komponen-komponen itu kita bisa membikin mass product. Itu kemungkinan besar akan kami gulirkan kalau GEA memang benar akan dilibatkan program mobil murah dari pemerintah. Saat ini masih belum jelas apakah GEA atau mobil yang lain.

Tanggapan Anda terkait program mobil murah dari pemerintah dan apakah mobnas dilibatkan?

Wacana itu kan sudah lama ya, tapi sampai saat ini belum jelas perwujudannya. Kalau kami menunggu terus lama-lama kami terbawa arus jadinya nanti kami tidak jalan-jalan, akhirnya beberapa produsen di bawah kami (AisaNusa) memutuskan untuk membuat saja lalu dipasarkan. Beberapa dari kami juga sudah pegang pasarnya. Ya GEA itu, tapi apakah benar GEA akan dilibatkan kami masih menunggu.

Bila mengikuti pameran bagaimana respons masyarakat umum terhadap mobnas?

Baik, untuk segmen masyarakat yang kami bidik banyak yang tertarik untuk membeli. Tapi seperti saya bilang, kami belum bisa melayani untuk ritel karena belum infrastruktur after sales-nya belum terbangun.

Sumber:  http://nasional.jurnas.com/halaman/8/2011-10-08/184776

TEMU BISNIS & PAMERAN " INDUSTRI OTOMOTIF NASIONAL"

Peluang pengembangan Mobil Pedesaan dalam Industri Otomotif Nasional sangat besar. Potensi pasarnya sangat besar mengingat luas wilayah pedesaan jauh lebih besar daripada perkotaan. Peluang pasar ini dimanfaatkan oleh para pelaku dan pengembang kendaraan nasional yang tergabung dalam Asosiasi Industri Automotive Nusantara (ASIA NUSA).

Mobil yang dikembangkan anggota ASIA NUSA seperti GEA, Komodo, Tawon, WAKABA, Arina dan Kancil, memiliki peluang untuk mengisi pasar tersebut. Dalam rangka mempersiapkan produksi Mobil Pedesaan, Design Center Teknik Mesin FT-UNPAS (DC-Unpas) bekerjasama dengan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) beserta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat (Indag-Jabar), menyelenggarakan "Seminar Nasional dan Temu Bisnis Industri Otomotif Nasional".

Industri komponen lokal perlu melakukan usaha yang terarah dan cepat dalam meningkatkan daya saing, terutama di bidang disain, rekayasa dan teknologi. Sebelum tahun 1999, industri komponen otomotif relatif terproteksi dari impor dengan bea masuk. Tapi kini praktis sudah terbuka karena ada pasar bebas. Bea masuk yang tertinggi hanya 17 persen sehingga menyebabkan persaingan pasar komponen otomotif menjadi ketat.

Sejauh ini banyak pihak yang menilai kemampuan industri otomotif Indonesia sudah mampu bersaing dengan industri serupa dari Jepang dalam sejumlah komponen tertentu. Untuk komponen-komponen inti sepeda motor bahkan sudah piawai dan kualitas tak kalah. Oleh sebab itu untuk meningkatkan daya saing ini, bukan saja dalam menghadapi persaingan pasar yang semakin ketat dan terbuka, namun juga mulai menjajaki kemungkinan Indonesia memiliki kemampuan desain dan rekayasa teknologi yang menyeluruh, mulai dari teknologi produk, teknologi proses, sampai ke industri pendukungnya.

Acara diselenggarakan pada:

Hari: Jum'at 30 September 2011 (Seminar)
         Sabtu & Minggu 01 sd 02 Oktober 2011 (Pameran)
Tempat: di "Hotel Grand Serela" Jl. R.E. Martadinata (Jl. Riau) no. 56 - Bandung.
Tema: Menuju Kebangkitan Industri Nasional di Bidang Kendaraan



Seminar dan temu bisnis yang diselenggarakan merupakan sebuah upaya membangun jaringan dan jalur komunikasi yang intensif dalam rangka memperkuat interaksi antar aktor-aktor inovasi dibidang industri manufaktur dan otomotif nasional, khususnya akdemisi/peneliti, pelaku bisnis industri kecil dan menengah (IKM) maupun maupun industri besar di bidang Industri Otomotif, beserta dukungan pemerintah.

Acara akan dibuka dengan Seminar Nasional Industri Otomotif Nasional, yang akan membahas seputar Pengembangan Industri Mobil Pedesaan. Topik-topik yang akan dibahas diantaranya: 

(1) Kebijakan Industri Otomotif Nasional, dari Kementerian Perindustrian; 
(2) Peluang dan Tantangan Industri Komponen dalam Mendukung Industri Otomotif Nasional, dari Klaster Industri Komponen Otomotif Jawa Barat; 
(3) Industri Engine Sebagai Penggerak Industri Komponen dalam Mendukung Industri Otomotif Nasional; dan 
(4) Pengembangan Kendaraan Pedesaan Berbasis IKM, dari ASIA NUSA. Acara seminar akan dilanjutkan dengan seminar makalah yang akan disampaikan oleh para Peneliti/Akademisi serta Pelaku Industri yang memiliki kajian dalam pengembangan otomotif maupun komponen.

Acara Temu Bisnis bertujuan untuk:

1. Menjalin kerjasama antara industri komponen otomotif dan aksesoris, dengan pengembang mobil nasional seperti GEA,Komodo dan Tawon.
2. Menjalin kerjasama antara industri komponen otomotif, aksesoris, maupun pengembang mobil nasional (ASIA NUSA) dengan investor, distributor maupun innovator.

Pembicara 1 :
Direktur Jenderal IUBTT Kementerian Perindustrian (Topik: ”Kebijakan Industri Otomotif Nasional)

Pembicara 2 :
Klaster Industri Komponen Otomotif JABAR (Topik: “Peluang dan Tantangan Industri Komponen dalam Mendukung Industri Otomotif Nasional”)

Pembicara 3 :
RUSNAS ENGINE (Topik: “Industri Engine sebagai Penggerak Industri Otomotif Nasional”)

Pembicara 4 :
Pengembangan Kendaraan Nasional (Topik: ”Pengembangan kendaraan Pedesaan Berbasis IKM”).

Seminar ini merupakan paparan makalah yang diundang dari berbagai Institusi pendidikan, Institusi penelitian maupun industri. Topik-topik makalah yang dapat dipresentasikan:
  • Alternatif kendaraan
  • Ergonomi dan estetika
  • Metoda disain
  • Alternatif energi
  • Teknologi Manufaktur
  • Disain Produk & Pengembangan
  • Teknologi Informasi
  • Teknologi Material
  • CAD/ CAM/ CAE
Tanggal 1 - 2 Oktober 2011: SAKSIKAN KEHADIRAN PRODUK ASIANUSA

1. Wakaba
2. Fin Komodo Offroad
3. GEA
4. AG - Tawon
5. Mobil2 Karya Mahasiswa yang ikut dalam Lomba Shell Eco Marathon
6. Dan lain2

    Berharap Jadi Raja di Negeri Sendiri

    Tantangan mobil nasional untuk menjadi raja di negeri sendiri memang masih besar. Bukan saja karena sebagian besar konsumen Tanah Air masih memfavoritkan kendaraan-kendaraan buatan asing, melainkan pula belum memadainya dukungan finansial dan regulasi dari pemerintah.

    Menurut Ketua Umum Asosiasi Industri Automotive Nusantara (Asia Nusa) Ibnu Susilo, pihaknya memang kesulitan mengenalkan mobil kreasi anak bangsa kepada masyarakat luas, terutama karena masih rendahnya tingkat kepercayaan terhadap produk dari negeri sendiri. Tidak jarang, kata Ibnu, masyarakat menganggap teknologi buatan Indonesia belum canggih.

    Rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kualitas mobil nasional itu tidak lantas membuat para produsen pesimistis. Sebaliknya, mereka menjadikan hal itu sebagai tantangan untuk membuktikan bahwa produk dalam negeri pun memiliki kompetensi tinggi. "Kami akan tetap optimistis dan berupaya agar Indonesia benar-benar memiliki produknya sendiri, bukan sekadar mobil made in Indonesia," tegas Ibnu yang pernah mendesain pesawat terbang buatan PT Dirgantara Indonesia, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

    Dilihat dari kapasitasnya, saat ini mobil nasional yang dibuat kebanyakan berupa kendaraan mikro dengan kapasitas mesin di bawah 1.000 cc. Kendati demikian, fungsi mobil tersebut tetap optimal, dan ke depannya ditargetkan menjadi kendaraan angkutan bagi polisi dan petugas pemadam kebakaran, serta moda pengangkut barang di pasar.

    Salah satu contohnya adalah Komodo. Mobil yang sengaja dibuat sebagai kendaraan off road itu berdesain pesawat terbang, memunyai rangka yang ringan namun kokoh, serta dapat melindungi penumpang dari berbagai kondisi, termasuk kondisi ekstrem. Selain pengembangan desain, hal yang mesti diperhatikan adalah inovasi teknologi. Untuk membuat produk yang berteknologi tinggi, diperlukan dukungan para ahli teknologi otomotif dan para teknisi dalam merekayasa dan menganalisis rancangan yang dibuat.

    Tidak dimungkiri, saat ini pembuatan mobil nasional belum 100 persen menggunakan komponen lokal. "Saat ini, setidaknya masih ada 30 persen komponen dari luar negeri yang digunakan untuk membuat mobil nasional. Namun, secara bertahap kami akan berusaha agar semua komponen untuk pembuatan mobil nasional berasal dari dalam negeri," ujar Ibnu.

    Apabila hal tersebut dapat terealisasi, peluang menciptakan industri otomotif nasional yang mandiri dinilai bakal lebih besar. Apalagi jika rencana pemerintah melalui Kementerian Perindustrian menyediakan kendaraan angkutan umum murah untuk masyarakat perdesaan dapat terlaksana. Kabarnya, kendaraan tersebut bakal dapat dinikmati masyarakat pada tahun depan.

    Untuk mengembangkan program mobil rakyat itu, pemerintah menyiapkan anggaran 144 miliar rupiah. Nantinya, kendaraan dengan kapasitas mesin 650 cc tersebut dibanderol harga 30 juta rupiah per unit. Sementara itu, untuk memproduksi mobil tersebut, kabarnya pemerintah tidak hanya menggandeng produsen lokal, tetapi juga pihak asing yang memiliki teknologi lebih canggih sehingga mampu menawarkan harga lebih murah.

    Mengenai kabar tersebut, Ibnu mengatakan pada dasarnya para produsen lokal tidak menuntut terlalu banyak. "Kami menginginkan adanya perlindungan pasar dari pemerintah," kata dia. Ibnu lantas memberi gambaran, industri otomotif di Eropa dan Jepang pada awalnya mesti berjuang pula dari nol. Namun, lama-kelamaan, dengan privilege mendapatkan perlindungan dari negara, industri otomotif di kedua kawasan itu semakin berkembang pesat. (fan/E-2) - Koran Jakarta
     
    Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Dewa Yuniardi - Premium Blogger Themes | Lady Gaga, Salman Khan